Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Sektoral dan Teori Konsektoral

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Sektoral dan Teori Konsektoral

Rajasatour.Id – Menurut Yunus (2006), terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menyoroti dinamika kehidupan suatu kota, khususnya berdasarkan penggunaan lahan kota atau tata ruang kota tersebut. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dikategorikan menjadi empat macam, yaitu pendekatan ekologi, pendekatan ekonomi, pendekatan  morfologi, dan pendekatan sistem kegiatan. Saat ini, kita akan membahas tentang pendekatan ekologi, khususnya berdasarkan teori sektoral dan teori konsektoral.

  1.    Teori Sektoral

Teori sektoral pertama kali dikemukakan oleh Hoyt pada tahun 1939. Teori ini merupakan pengembangan dari teori konsentris karena masih menunjukkan persebaran zona-zona konsentris. Menurut teori ini, ruang kota dibagi menjadi 5 zona, yaitu daerah pusat kegiatan (CBD), zone of wholesale light manufacturing, zona permukiman kelas rendah, zona permukiman kelas menengah, dan zona permukiman kelas tinggi.

Berdasarkan teori ini, daerah pusat kegiatan (ditunjukkan oleh nomor 1) sama dengan pada teori konsentris. Zone of wholesale light manufacturing (ditunjukkan oleh nomor 2) tidak berbatasan langsung dengan CDB, tetapi memanjang ke luar menembus lingkaran konsentris. Hal ini disebabkan karena adanya peranan jalur transportasi dan komunikasi. Zona permukiman kelas rendah (ditunjukkan oleh nomor 3) dihuni oleh penduduk dengan kemampuan ekonomi lemah. Zona ini juga memanjang karena pengaruh transportasi. Zona permukiman kelas menengah (ditunjukkan oleh nomor 4) tidak berbentuk memanjang karena kondisi ekonomi yang mapan memungkinkan penduduknya tidak perlu tinggal terlalu dekat dengan tempat kerja. Zona permukiman kelas tinggi (ditunjukkan oleh nomor 5) berada di paling luar, zona ini dirasa sebagai tempat tinggal yang paling nyaman.

  1.    Teori Konsektoral (Konsentris-Sektoral)

Teori konsektoral merupakan gabungan antara teori konsentris dan teori sektoral. Teori ini dibedakan menjadi dua tipe, yaitu tipe Eropa yang dikemukakan oleh Peter Mann (1965) dan tipe Amerika Latin yang dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry Ford (1980). Menurut Mann, kota-kota di Eropa, khususnya di Inggris, menunjukkan perbedaan penggunaan lahan yang mencolok akibat dipengaruhi oleh angin regional. Apabila angin regional dominan dari arah tertentu, maka bagian kota yang menghadap ke arah angin ini akan didominasi oleh kelas permukiman yang lebih baik. Semakin menjauhi arah datangnya angin, kelas permukimannya semakin menurun. Hal  ini berhubungan dengan kenyamanan tempat tinggal yang dikaitkan dengan udara segar dan terbebas dari polusi.

Teori konsektoral kota di Amerika Latin berbeda dengan Eropa, di mana menunjukkan kombinasi antara unsur tradisional dan modern. Wilayahnya dibagi menjadi CBD, zona perdagangan, zona permukiman kelas elit, zone of maturityzone of insitu accretion, dan zone of peripheral squatter settlements. CBD adalah pusat kota yang kegiatannya sangat dinamis. Zona perdagangan membentuk jalur utama dan terletak menjari dari pusat kota (CBD) ke arah luar dan dikelilingi oleh daerah permukiman elit. Zone of maturity adalah permukiman yang kondisinya cukup baik. Zone of insitu accretion ditandai oleh permukiman yang sederhana, tetapi tidak terlalu buruk. Sementara itu, zone of peripheral squatter settlements adalah wilayah yang paling buruk kondisi permukiman dan fasilitasnya.